Reward Bermanfaat vs Reward Negatif ?

reward

Agnes sangat berteriak riang ketika ia membuka kado yang didapatnya dari ayah dan ibu nya dikarenakan ia baru saja mendapat peringkat kesatu didalam lomba pertandingan matematika dan bahasa inggris yang diadakan oleh sebuah bimbingan belajar ternama di tangerang. Kita melihat apa yang diberikan oleh sang orang tua adalah hal yang sangat dan lumrah terjadi ketika sang anak berprestasi. Apa yang dilakukan oleh sang orang tua adalah sebuah pemberian “reward” atau “penghargaan”.

Dikutip apa yang dikatakan oleh Naomi Soetikno M.Pd. seorang  staf pengajar Fakultas psikologi di Universitas Tarumanagara didalam sebuah artikel sebuah majalah bahwa reward merupakan suatu penghargaan yang diberikan kepada seseorang yang berhasil mencapai suatu target. Reward juga merupakan penguatan yang diberikan agar memunculkan suatu perilaku atau mempercepat munculnya suatu perilaku.

Ada banyak fungsi dari sebuah reward :

  • Reward akan memotivas sang anak sehingga anak akan merasa dihargai dan diakui akan prestasi yang dapat dicapainya
  • Reward akan membantu sang anak dalam memahami kemampuan yang ia miliki, meningkatkan harga diri, dan membentuk konsep diri sebagai seseorang yang memiliki kemampuan.
  • Reward dapat menimbulkan ikatan emosional yang kuat antara orang tua dengan anak sehingga akan lebih mudah bagi orang tua dalam memberikan arahan dan pendapat kepada anak-anak mereka.

Melihat fungsi-fungsi dari reward diatas kita yakin bahwa dengan reward akan memberikan dampak-dampak yang positif. Namun apabila dalam tata cara pemberian reward ini tidak diatur semestinya justru reward akan dapat berdampak negatif,  reward menjadi tidak efektif karena fungsinya tidak berdampak apa-apa terhadap perkembangan perilaku anak.

Ada banyak kesalahan-kesalahan pemberian reward yang seringkali di lakukan oleh orang tua yaitu :

  • Memberikan reward secara berlebihan dan melebihi kemampuan orang tua.
  • Saat sang anak merengek atau berperilaku negatif menginginkan sesuatu orang tua tanpa tujuan yang jelas malah orang tua memberikannya.
  • Menunda dalam memberikan reward saat si anak berprestasi sehingga membuat menghilangnya kesan dan rasa senang karena sudah terpengaruh kegiatan lain.
  • Pemberian reward tidak sesuai konteks. Contohnya : supaya si anak mau membersihkan kamarnya sendiri, orang tua malah memberikan reward jalan-jalan ke luar kota. Tentu ini tidak sesuai konteks yang mungkin lebih tepat di beri reward berupa barang barang yang bisa di tempatkan di kamar sang anak/

Jadi setelah melihat penjelasan diatas , timbul pertanyaan, ..”jadi bagaimana aturan main yang benar dalam memberikan reward?”

  • Berikan reward pada perilaku anak yang memang positif

Reward dapat berupa pujian tidak selalu harus dalam bentuk materi, seperti halnya senyuman, pelukan, tepukan di bahu, dekapan, kata-kata motivasi dan pujian.

  • Usahakan apabila memberikan reward materi berilah barang-barang yang dapat dikenang dan bertahan lama sehingga si anak akan selalu teringat dan akan membuat dia mengerti mengapa dia mendapatkan reward tersebut.

Demikian artikel tentang bagaimana memberikan reward buat sang buah hati kita. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 4 =